the art of Simplicity

So, tadi siang (atau kemarin malam, gw lupa..) sempet baca artikel soal simplicity di salah satu  situs favorit gw :  the99percent.com .

kebetulan mereka lagi bahas soal simplicity…

karena kebetulan gw lagi sangat ingin sekali membuat segalanya lebih simple, gw buka aja artikelnya…, siapa tau bisa nambah ilmu lagi buat membuat segalanya jauh lebih simple…,

dan…. ternyata isinya bukan seperti yang gw sangka…, artikel ini “cuma” ngebahas soal simplicity yang bisa diterapkan di lingkungan kerja, biar bisa lebih meningkatkan produktivitas gituu.., jadi cuma applicable di dunia kerja doang…

tapi, terlepas dari isi artikelnya sendiri, gw menemukan hal yang menarik di pembukaan artikel dan gambar artikelnya.

sebenernya sih cuman beberapa kalimat sederhana, yang artinya kurang lebih begini :

simplicity, suatu proses pemikiran yang lebih jauh, untuk membuat system yang sulit menjadi lebih mudah, dengan pertimbangan mendalam mengenai apa yang di buang, dan apa yang dipertahankan”

setelah membaca artikel, ada beberapa hal yang berhasil membuat gw mikir…

i want to make it simple, as simple as possible….
tapi belajar dari pengalaman, (terutama pengalaman gw main-main di UKM)  hal yang simple terkadang membuat kita kehilangan esensi dan makna dari pekerjaan itu sendiri….

di UKM, gw termasuk orang yang “rese”… apalagi kalo ngomongin soal program kerja a.k.a proker. temen gw aja sempet cape ati ngadepin gw buat soal ngomongin proker, sampe akhirnya nge bypass langsung ke ketua

(kalo H*rry membaca ini, ya! yang saya maksud adalah anda! huehehe :p )

kenapa menurut gw proker itu penting? karena di dalam proker terdapat esensi dan kerjaan kita selama setahun penuh. apakah proker itu simple? TIDAK. proker itu luar biasa ribet kalo dikerjakan sepenuh hati.

terus , dengan spirit simplicity yang gw pegang, buat apa gw harus se “rese” itu dalam proses pembuatan proker?

di UKM gw sendiri sampe sekarang masih ada perdebatan, apakah sebenernya proker dengan format yang sekarang itu bener2 berguna? kenapa harus bikin seribet ini kalo bisa diaplikasikan dengan lebih “simple”?

honestly, gw ga bisa jawab. tadinya gw pikir hal ini sangat diperlukan, dan orang – orang yang bilang hal ini ga diperlukan bener – bener underestimate system yang harusnya ada dan berjalan…

tapi gimana kalo sebenernya mereka udah take another step, dan make it simple? dengan benar – benar memikirkan mana yang harus dipakai, dan mana yang bisa di buang?

dan dari mana gw bisa tahu, kalo simplicity yang digunakan berasal dari hasil pemotongan system besar yang dipikirkan dengan baik, atau dari “kemalasan” kita untuk memikirkan system tersebut dan membuat segala sesuatu nya “asal jalan aja” ?

Gw pribadi merasa sedikit tertampar.. karena termasuk orang yang sering ngegampangin masalah dan underestimate banyak hal…, gw mengusung spirit simplicity, tapi gw juga harus akui, kalo beberapa hal di dalam spirit yang gw jalankan ini datangnya masih dari kemalasan, dan bukannya dari hasil pemikiran menyeluruh dengan memperhatikan keseluruhan masalah.

gimana dengan anda? apakah spirit simplicity anda sudah melalui proses “penggodokan” yang cukup kuat, atau sekedar “kemalasan” tanpa dasar dan arah yang jelas?

Advertisements

One comment on “the art of Simplicity

  1. Lucky Halim says:

    hehe, simplicity emang ga gampang.. 😀
    justru bikin simple itu yg lumayan menguras pikiran..
    dosen gw pernah bilang “bedakan minimalis dengan minimalas”, heheh.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s